Minggu, 31 Januari 2016

laporan farmasi fisika



BAB I
PENDAHULUAN
I.1    Latar Belakang
Bentuk-bentuk obat dalam sediaan farmasi beragam dan secara garis besar dibagi menjadi 3 yaitu dalam bentuk padat, semi-cair dan cair. Keseluruhan bentuk sediaan itu dibuat dengan alasan tertentu sesuai dengan  sifat-sifat bahan yang dikandungnya, tujuan pemakaian, cara penggunaan dan sifat lainnya.
Salah satu pertimbangan dari pembuatan bentuk sediaan tersebut adalah bagaimana sifat kelarutan dari sediaan tersebut di dalam tubuh. Dalam sediaan bentuk tablet misalnya, maka tablet tersebut harus dapat larut dalam tubuh sehingga zat aktif yang dikandungnya dapat diserap oleh tubuh dan memberikan efek terapi. Untuk itu maka diadakanlah uji disolusi terhadap tablet tersebut.
Uji disolusi sangatlah penting artinya dalam bidang farmasi, karena menyangkut bagaimana nasib suatu sediaan obat di dalam tubuh. Obat harus dapat larut sehingga dapat memberikan efek terapi. Selain itu ada juga obat-obat yang dibuat dengan maksud agar obat tersebut dihambat disolusinya agar jumlahnya dalam tubuh tetap, dan ada juga obat yang diinginkan agar melarut dalam organ tertentu di dalam tubuh, untuk memberikan efek lokal.
Untuk itu uji disolusi terhadap obat-obatan haruslah dimengerti oleh seorang farmasis selaku orang yang bertanggung jawab dibidang ini. Untuk itulah dalam praktikum ini diadakan percobaan disolusi untuk mengetahui besar kecepatan kelarutan dari suatu sediaan obat yaitu ampisilin dengan menggunakan alat disolusi.

I.2    Maksud dan Tujuan

        I.2.1   Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami cara penentuan konstanta laju disolusi dari suatu sedian obat tertentu pada berbagai pH dan suhu
        I.2.2   Tujuan Percobaan
Menentukan laju disolusi tablet amoksisilin pada berbagai pH dan suhu dengan medium air suling dengan menggunakan alat disolusi

I.3    Prinsip Percobaan

Penentuan konstanta kecepatan disolusi dari tablet  amoksisilin 500 mg berdasarkan kadar amoksisilin yang terdisolusi dalam medium air suling pada suhu 370C dengan menggunakan alat disolusi dan penentuan kadarnya dengan menggunakan metode titrasi alkalimetri dengan penambahan indikator fenolftalein yang dititrasi dengan NaOH 0,0989 N baku hingga terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda pada menit ke 5, 10 dan 15.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1  Teori Umum

                        Stabilitas diartikan sebagai bahwa obat (bahan obat, sedian obat) disimpan dalam kondisi penyimpanan dan pengangkutan tidak menunjukkan perubahan sama sekali atau berubah dalam batas-batas yang diperoleh.
                        Dalam bidang farmasi, obat masih dapat diterima apabila sebagian obat mengalami perubahan sampai batas tertentu, yaitu suatu kadar obat masih berada dalam kadar yang ditetapkan dalam Farmakope Indonesia atau Farmakope lainnya. Batas kadar yang dimaksud adalah 90 % artinya kalau kadar obat masih di atas 90 %, obat tersebut masih dapat digunakan. Tapi, jika kadar obat kurang dari 0 %, maka obat tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi
                        Indikasi kualitas yang mendasar adalah kandungan bahan aktif, kondisi galenik dan sifat sensorik yang menarik, sifat mikrobiologi dan toksitologi serta aktifitas terapiknya. Skala perubahan yang diizinkan untuk bahan obat yang telah tercantum dalam farmakope adalah 90 % bahan aktif dari yang tertara pada etiket berlaku dalam lingkup internasional sejauh produk urainya yang terbentuk tidak menaikkan toksisitas sedian secara keseluruhan.
Beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan pelarutan suatu zat yaitu :
  1. Temperatur
Naiknya temperatur pada umumnya memperbesar kelarutan (Cs) zat yang endotermis, serta memperbesar harga koefisien difusi zat.



  1. Viskositas
Turunnya viskositas pelarut akan memperbesar kecepatan pelarutan suatu zat sesuai dengan persamaan Einstein. Naiknya temperatur juga akan menyebabkan turunnya viskositas sehingga memperbesar kecepatan pelarutan.
  1. pH pelarut
pH pelarut sangat berpengaruh terhadap kelarutan-kelarutan zat-zat yang bersifat asam lemah atau basa lemah.
  1. Pengadukan
Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi tebal lapisan difusi (b). Bila pengadukan cepat maka tebal  lapisan difusi berkurang sehingga menikkan kecepatan pelarut suatu zat.
  1. Ukuran partikel
Bila partikel zat terlalu kecil maka luas permukaan efektif besar sehingga menaikkan kecepatan pelarutan suatu zat
  1. Polimorfisa
Kelarutan zat dipengaruhi oleh adanya polimorfisa. Karena bentuk kristal yang berbeda akan mempunyai kelarutan yang berbeda pula. Kelarutan bentuk kristal yang meta stabil lebih besar dari pada bentuk stabil, sehingga kecepatan pelarutannya besar.
  1. Sifat permukaan zat
Pada umumnya zat-zat yang digunakan sebagai obat bersifat hidrofob, dengan adanya surfaktan di dalam pelarut akan menurunkan tegangan permukaan antara partikel zat dengan pelarut, sehingga mudah terbasahi dan kecepatan pelarutan bertambah.
Salah satu faktor-faktor tersebut, kecepatan pelarutan suatu zat aktif dari sediaannya dipengaruhi pula oleh faktor formulasi dan teknik pembuatan sediaan tersebut. (2: 845-846 )
Perbedaan aktifitas biologi dari suatu zat obat mungkin diakibatkan oleh laju dimana obat menjadi tersediauntuk organisme tersebut. Dalam banyak hal laju disolusi atau waktu yang diperlukan bagi obat untuk melarutkan dalam cairan pada tempat absorbsi, merupakan tahap yang menunjukan laju dalam proses absorbsi. Ini benar untuk obat-obat yang diberikan secara oral dalam bentuk padat seperti tablet, kapsul atau suspensi, seperti juga obat-obat yang diberikan secara intramuscular dalam bentuk pellet atau suspensi. Bila laju disolusi merupakan tahap yang menentukan laju, apapun yang mempengaruhinya akan mempengaruhi absorbsi. Akibatnya laju disolusi dapat mempengaruhi onset, intensitas, dan lama respon serta kontrol bioavailabiitas obat tersebut keseluruhan dari bentuk sediaannya (3: 153).
Laju disolusi dapat ditingkatkan dengan meningkatkan ukuran partikel obat. Ia juga bisa ditingkatkan dengan meningkatkan kelarutannya dalam lapisan difusi. Cara-cara yang paling efektif untuk memperoleh laju disolusi yang tinggi adalah dengan menggunakan suatu garam yang larut dalam air dari zar induknya. Walaupun garam yang larut dari suatu asam lemak akan secara berurutan mengendap sebagai asam bebas dalam fase bulk dari suaru larutan asam, separti cairan lambung, ia akan berlaku demikian dalam bentuk partikel-partikel halus dengan suatu permukaan besar (3:154).


Penentuan kecepatan pelarutan suatu zat dapat dilakukan dengan metode : (1)
-          Metode suspensi
Bubuk zat padat ditambahkan pada pelarut tanpa pengontrolan yang eksak terhadap luas permukaan partikelnya. Sampel diambil pada waktu-waktu tertentu dan jumlah zat yang larut ditentukan dengan cara yang sesuai
-          metode permukaan konstan
zat ditempat dalam suatu wadah yang diketahui luasnya, sehingga variabel perbedaan perbedaan luas permukaan efektif dapat dihilangkan. Biasanya zat dibuat tabet terlebih dahuhlu. Kemudian sampel ditentukan seperti pada metode suspensi.
Uji disolusi zat khasiat : (2)
Pengukuran ini dilakukan dengan 5 tablet yang diukur satu persatu memakai alat disolution tester. Yang diukur dengan tes disolusi ini adalah jumlah zat khasiat yang larut dalam satu satuan waktu.
Disolusi zat khasiat dari tablet dapat terjadi dengan cara : (2)
a.       tablet mengalami disintegrasi terlebih dahulu
b.      Baru kemudian zat berkhasiat melarut dari bagian-bgin tablet yang hancur tersebut.
Namun pernyataan ini tidak dapat begitu saja diterima oleh karena pada kenyataannya proses disolusi tablet berlangsung bersamaan dengan terjadinya disintegrasi dari tablet. Kecepatan disolusi ada kaitannya dengan efek farmakologi zat khasiat yang dikandung dalam tablet. (2)
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larut dalam cairan pada tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang diberikan secara oral dalam bentuk tablet atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai partikel-partikel obat larut dalam cairan pada suatu tempat dalam saluran lambung usus. Dalam hal dimana kelarutan suatu obta tergantung dari apakah medium asam atau medium basa, obat tersebut akan dilarutkan berturut-turut dalam lambung dan dalam usus. Proses melarutnya obat disebut disolusi. (3)

Dalam bidang farmasi, penentuan kecepatan pelarutan suatu zat perlu dilakukan karena kecepatan pelarutan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi absorbsi obat. Penentuan kecepatan suatu zat aktif dapat dilakukan pada beberapa tahap pembuatan sediaan obat yaitu : (1)
1.      Tahap pre-formulasi
Pada tahap ini penentuan kececepatan pelarutan dilakukan terhdap bahan baku obat dengan tujuan untuk memilih sumber bahn baku dan memperoleh informasi tentang bahan baku tersebut.
2.      Tahap Formulasi
Pada tahap ini penentuan kecepatan pelarutan dilakukan untuk memilih formula yang terbaik.
3.      Tahap produksi
Pada tahap ini penentuan kecepatan pelarutan dilakukan untuk kontrol kualitas sediaan obat yang diproduksi.









 


II.2  Uraian Bahan

1.       Air suling (FI III; 96)
Nama Resmi                    : Aqua destillata
Nama Lain                       : aquades, air suling
RM/BM                           : H2O/18,02
             Pemerian                         :  Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa
Penyimpanan                   : Dalam wadah tertutup rapat.
Penggunaan                     : Sebagai pelarut


2.       Natrium Hidroksida (FI, III;412)
     Nama Resmi                  : Natrii Hydroxydum
     Nama Lain                     : Natrium Hidroksida
     Rumus Kimia                 : NaOH
     Berat Molekul                : 40,00
     Pemerian                        : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping, kering, keras, rapuh, dan menunjukkan susunan hablur; putih, mudah meleleh, mudah basah, sangat alkalis dan korosif segera menyerap karbondioksida.
Kelarutan                            : Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95 %) P.
Penyimpanan                      : Dalam wadah tertutup baik.
Penggunaan                        : Sebagai titran
3.       Fenolftalein (4;73)
     Nama Lain                     : Phenolphtaleinum
         Nama Lain                          : Fenolftalein
         RM/BM                              : C20H14O14 / 318,33
O
 
Rumus Bangun                   :


 




Pemerian                             : Serbuk hablur  putih atau putih kekuningan, tidak berbau, stabil di udara.
      Kelarutan                            : Praktis tidak larut dalam air, larut dalam etanol, agak sukar larut dalam eter.
         Trayek pH                          : 8,3 – 10,0
         Perubahan Warna               : Tidak berwarna menjadi merah muda
Penggunaan                        :  Sebagai indikator dalam metode alkalimetri untuk penentuan kadar asam mefenamat.
4.       Amoksisilin (4;90)
Nama resmi                          :      Amoxicillinum
Sinonim                               :      Amoksisilina
RM / BM                            :      C16H19N3O5S / 365,40
Pemerian                             :      Serbuk hablur, putih, praktis tidak berbau.
Kelarutan                            :      Sukar larut dalam air dan methanol, tidak larut dalam benzene, dalam karbontetraklorida dan dalam kloroform.
Persyaratan kadar               :      Amoksisilin mengandung tidak kurang dari 90% C16H19N3O5S, dihitung terhadap zat anhidrat
Khasiat                                :      Antibiotik
Kegunaan                            :      Sebagai sampel.

II.3  Prosedur Kerja (1)
1.      Bak mantel yaitu tempat labu disolusi dimasukkan, diisi dengan air suling (kalau digunakan air ledeng akan terjadi pengapuran pada alat pemanas elemen).
2.      Stel pada suhu 37oC kurang lebih 0,5o, alat di on-kan (hubungkan dengan sumber PLN) melalui stabilizer agar alat tidak mudah rusak.
3.      Isi labu disolusi dengan media disolusi. Kalau suhu media dimasukkan dengan suhu kamar maka akan memerlukan waktu yang lama untuk mencapai 37oC. Volume larutan disolusi adalah 900 ml (lazimnya).
4.      Bila suhu dalam labu disolusi sudah mencapai 37oC (konstan), tablet asetosal dimasukkan dalam keranjang (basket dari kawat platina).
5.      Pada saat dimasukkan, di on-kan pengaduk dengan kecepatan 100 rpm. Kecepatan 100 rpm adalah kecepatan yang lazim digunakan.
6.      Catat waktu pada saat basket yang berisi tablet dimasukkan dalam labu disolusi.
7.      Pada saat tertentu, lihat lembaran laporan, ambil contoh sejumlah 1,0 ml dengan pipet volume dan larutan disolusi dicukupkan sehingga larutannya seperti semula, yaitu 900 ml (catatan : pada waktu disolusi diambil contoh 1 ml, larutan disolusi berkurang 1 ml, supaya volumenya tetap maka dicukupkan larutan disolusinya hingga 900 ml).
8.      Larutan contoh diencerkan 10 x menggunakan larutan dapar pH 7,2 dan saring sebelum diukur dengan spektrofotometer UV (ingat pada waktu menyaring, saringan pertama dibuang yaitu kurang lebih 10-20 tetes).
9.      Contoh yang sudah diencerkan tadi dikumpulkan dan diukur dengan UV.
10.  Larutan asetosal dalam larutan tidak bias tahan lama, karena mengalami penguraian.


BAB III
METODE KERJA

III.1   Alat dan Bahan

          III.1.1    Alat dan bahan yang digunakan
-          Alat uji disolusi
-          Buret 25,0 ml
-          Erlenmeyer 250 ml
-          Gelas kimia 1000 ml
-          Gelas ukur 100 ml
-          Pipet tetes
-          Pipet volume 10 ml
-          Statif dan klem
-          Termometer

          III.1.2    Bahan yang digunakan
-          Air suling
-          Indikator PP
-          NaOH 0,125 N
-          Tablet Asetosal



III.2   Cara Kerja

1.      Disiapkan alat dan bahan yang digunakan.
2.      Dipanaskan air suling dalam gelas kimia sebanyak 1000 ml di atas penangas air hingga suhunya 40o C.
3.      Dimasukkan air suling yang telah dipanaskan sebanyak 900 ml ke dalam labu disolusi.
4.      Dipasang termostat pada labu disolusi untuk memanaskan mantel pemanas
5.      Termostat dihidupkan dan diatur suhunya pada 37o C.
6.      Tablet asetosal dimasukkan dalam keranjang kemudian dimasukkan dalam labu disolusi setelah suhu mencapai 37o C dan pengaduk dijalankan.
7.      Setelah 5 menit, dipipet larutan pada labu disolusi sebanyak 10 ml menggunakan pipet volume yang ujung bawahnya ditutup dengan kertas saring dan dimasukkan dalam erlenmeyer. Setelah itu segera tambahkan air suling untuk mengganti cairan yang diambil sebanyak 10 ml.
8.      Larutan di dalam erlenmeyer ditambahkan indikator fenolftalein sebanyak 3 tetes.
9.      Dititrasi dengan larutan baku NaOH 0,125 N sampai terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda yang stabil.
10.  Dicatat volume NaOH 0,125 N yang digunakan.
11.  Dilakukan cara kerja yang sama untuk menit ke 10, 15, 20, 25, 30, 35, dan 40.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

IV.1 Data Pengamatan

Waktu (menit)
Vol. Titran (ml)
5
0,5
10
0,4
15
0,2
20
0,2
25
0,1
30
0,1
35
0,1
40
0,1

 

 

 

 


 


IV.2 Reaksi    


                                               
                                            +    NaOH                                                           +    H2O

 


IV.3 Perhitungan

1 mol ampisilin setara dengan 1 mol NaOH
BE   =  ½ BM
BE   =  ½ x 180,16
BE   = 90,08

1.      Persen Kadar
# untuk  t = 5 menit
              V  x  N  X  BE
% K  =                                    x    100 %
                       Bs            
                   0,5 x 0,125 x  90,08
% K  =                                                 x 100 %
                               667               
% K  =  0,844 %              
 # untuk  t = 10 menit
                   0,4 x 0,125 x  90,08
% K  =                                                 x 100 %
                               667               
% K  =  0,675 %  

               
 # untuk  t = 15 menit

                   0,2 x 0,125 x  90,08
% K  =                                                 x 100 %
                               667               
% K  =  0,337 %                      
# untuk  t = 20 menit
                   0,2 x 0,125 x  90,08
% K  =                                                 x 100 %
                               667                
% K  =  0,337 %              

# untuk  t = 25 menit
                   0,1 x 0,125 x  90,08
% K  =                                                 x 100 %
                               667               
% K  =  0,168 %                                    
# untuk  t = 30 menit
                   0,1 x 0,125 x  90,08
% K  =                                                 x 100 %
                               667               
% K  =  0,168 %                                    
#  untuk  t = 35 menit
                   0,1 x 0,125 x  90,08
% K  =                                                 x 100 %
                               667               
% K  =  0,168 %  



               
#  untuk  t = 40 menit
                   0,1 x 0,125 x  90,08
% K  =                                                 x 100 %
                               667               
% K  =  0,168 %                                    

2.       Bobot Dalam Media Disolusi
                W    =   %   K  x  V media disolusi    (900 ml)

Untuk menit ke 5

W     =  0,844 %   x   900 ml    =   7,596 mg

Untuk menit ke 10

W     =  0,675 %   x   900 ml    =   6,075 mg

Untuk menit ke 15

W     =  0,337 %   x   900 ml    =   3,033 mg

Untuk menit ke 20

W     =  0,337 %   x   900 ml    =   3,033 mg

Untuk menit ke 25

W     =  0,168 %    x   900 ml   =   1,512 mg

Untuk menit ke 30

W     =  0,168 %    x   900 ml   =   1,512 mg

Untuk menit ke 35

W     =  0,168 %    x   900 ml   =   1,512 mg

Untuk menit ke 40

W     =  0,168 %    x   900 ml   =   1,512 mg




3.      % kelarutan                                      
                                        W
         % Kelarutan  =                    x  100 %                       Wo = Bobot etiket
                                        Wo

Untuk menit ke 5

                                   7,596
% kelarutan  =                     x  100 %          
                                      80
                           =   9,495 %

Untuk menit ke 10

                                    6,075
% kelarutan  =                     x  100 %          
                                      80
                           =   7,593 %

Untuk menit ke15

                                   3,033
% kelarutan  =                     x  100 %          
                                      80
                           =   3,791 %

Untuk menit ke 20

                                   3,033
% kelarutan  =                     x  100 %          
                                      80
                           =   3,791 %

Untuk menit ke 25

                                   1,512
% kelarutan  =                     x  100 %          
                                      80
                           =   1,890 %

Untuk menit ke 30

                                   1,512
% kelarutan  =                     x  100 %          
                                      80
                           =   1,890 %

Untuk menit ke 35

                                   1,512
% kelarutan  =                     x  100 %          
                                      80
                           =   1,890 %

Untuk menit ke 40

                                   1,512
% kelarutan  =                     x  100 %          
                                      80
                           =   1,890 %









4.      Tabel Regresi
X (t)
[Wo-Wn]
Y(Log [Wa-Wn])
Y regresi
% kelarutan
5
72,404
1,860
1,868
9,495
10
73,925
1,869
1,873
7,593
15
76,967
1,886
1,878
3,791
20
76,967
1,886
1,883
3,791
25
78,488
1,895
1,888
1,890
30
78,488
1,895
1,892
1,890
35
78,488
1,895
1,897
1,890
40
78,488
1,895
1,902
1,890

A =  1,863
B  =  0,000979
         Y =  a + bx
         Y =  1,863 - 0,000979x
          b  =    -k                                           k = konstanta kecepatan disolusi
                  2,303
          k  =   b x 2,303
              =   0,000979 x 2,303
              =   0,00225




IV.4 Grafik
            a. Grafik Hubungan Waktu Dengan % Kelarutan


 









            b. Grafik Hubungan Waktu Dengan log (Wo-W)


 



Error! Not a valid link.






BAB V
PEMBAHASAN
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk sediaan ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangatlah penting artinya bagi ketersediaan hayati suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum di serap ke dalam tubuh. Kecepatan pelarutan adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu zat terlarut dalam pelarut tertentu tiap satuan waktu.
Disolusi zat khasiat dari tablet dapat terjadi dengan cara : tablet mengalami disintegrasi terlebih dahulu, baru kemudian zat berkhasiat melarut dari bagian-bagian tablet yang hancur tersebut.
Namun pernyataan ini tidak dapat begitu saja diterima oleh karena pada kenyataannya proses disolusi tablet berlangsung bersamaan dengan terjadinya disintegrasi dari tablet. Kecepatan disolusi ada kaitannya dengan efek farmakologi zat khasiat yang dikandung dalam tablet.
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larut dalam cairan pada tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang diberikan secara oral dalam bentuk tablet atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai partikel-partikel obat larut dalam cairan pada suatu tempat dalam saluran lambung usus.
Dalam bidang farmasi, penentuan kecepatan pelarutan suatu zat perlu dilakukan karena kecepatan pelarutan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi absorbsi obat.
Dalam percobaan ini, dilakukan penentuan kecepatan melarutnya zat aktif dari tablet asetosal berdasarkan penetapan kecepatan disolusinya.
Pada titrasi ini akan terjadi reaksi netralisasi dari asetosal dengan NaOH membentuk garam. Kemudian sedikit kelebihan NaOH Akan bereaksi dengan indikator yang akan menyebabkan warna ungu karena adanya perubahan warna dari indikator fenolftalein. Perubahan warna terjadi setelah beberapa tetes NaOH ditambahkan, karena asetosal merupakan asam lemah, jadi hanya sedikit diperlukan NaOH yang diperlukan untuk bereaksi dengan asetosal seluruhnya.
Perubahan warna indikator terjadi karena struktur dan ionnya berbeda setelah penambahan NaOH. Indikator fenolftalein merupakan suatu asam diprotik dan tidak berwarna. Pada pH dibawah 8,0 indikator ini akan tidak berwarna sedangkan pada larutan dengan pH 8,0-10,0 akan berwarna merah muda ungu. Adanya perubahan warna indikator ini dapat terjadi karena adanya perbedaan struktur molekul dan ionnya. Ia mula-mula berdisosiasi menjadi suatu bentuk tidak berwarna dan kemudian dengan kehilangan hidrogen kedua, menjadi ion dengan sistem terkonjugasi maka dapat dihasilkan warna merah muda.
Pada percobaan ini cairan yang berada dalam labu disolusi (900 ml) dianggap cairan tubuh manusia. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kecepatan kelarutan asetosal di dalam tubuh. Walaupun cairan yang ada di dalam labu disolusi berupa air suling, tidak sekompleks apa yang ada dalam cairan tubuh, tetapi hal ini hanya merupakan metode pendekatan yang telah dilakukan penelitian sebelumnya. Oleh karena itu pada percobaan ini juga digunakan suhu 37o C seperti pada suhu tubuh manusia.
Pengambilan sampel dilakukan pada menit ke 5, 10, 15, 20, 25, 30, 35, dan 45. perbedaan waktu pengambilan sampel dimaksudkan untuk mengetahui kelarutan obat tersebut dalam waktu tertentu.
Untuk setiap kali pengambilan sampel maka ditambahkan air suling ke dalam labu disolusi. Sebanyak sampel yang diambil. Hal ini dikarenakan volume cairan tubuh tidak berkurang. Sebagaimana pengambilan sampel dalam labu disolusi.
Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh bahwa konstanta kecepatan disolusi tablet asetosal adalah 0,00225.
Faktor-faktor kesalahan pada percobaan ini adalah :
1.      Kekurangcermatan praktikan dalam menggunakan alat..
2.      Kekurangcermatan praktikan dalam melakukan titrasi.
3.      Alat dan bahan yang sudah tidak bagus lagi.

BAB VI
PENUTUP

VI.1 Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa konstanta disolusi tablet asetosal adalah sebesar 0,00225 mol/L menit.

VI.2 Saran

Sebaiknya alat dan bahan yang digunakan masih baru.