BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar
Belakang
Bentuk-bentuk
obat dalam sediaan farmasi beragam dan secara garis besar dibagi menjadi 3
yaitu dalam bentuk padat, semi-cair dan cair. Keseluruhan bentuk sediaan itu
dibuat dengan alasan tertentu sesuai dengan
sifat-sifat bahan yang dikandungnya, tujuan pemakaian, cara penggunaan
dan sifat lainnya.
Salah
satu pertimbangan dari pembuatan bentuk sediaan tersebut adalah bagaimana sifat
kelarutan dari sediaan tersebut di dalam tubuh. Dalam sediaan bentuk tablet
misalnya, maka tablet tersebut harus dapat larut dalam tubuh sehingga zat aktif
yang dikandungnya dapat diserap oleh tubuh dan memberikan efek terapi. Untuk
itu maka diadakanlah uji disolusi terhadap tablet tersebut.
Uji
disolusi sangatlah penting artinya dalam bidang farmasi, karena menyangkut
bagaimana nasib suatu sediaan obat di dalam tubuh. Obat harus dapat larut
sehingga dapat memberikan efek terapi. Selain itu ada juga obat-obat yang
dibuat dengan maksud agar obat tersebut dihambat disolusinya agar jumlahnya dalam
tubuh tetap, dan ada juga obat yang diinginkan agar melarut dalam organ
tertentu di dalam tubuh, untuk memberikan efek lokal.
Untuk itu
uji disolusi terhadap obat-obatan haruslah dimengerti oleh seorang farmasis
selaku orang yang bertanggung jawab dibidang ini. Untuk itulah dalam praktikum
ini diadakan percobaan disolusi untuk mengetahui besar kecepatan kelarutan dari
suatu sediaan obat yaitu ampisilin dengan menggunakan alat disolusi.
I.2 Maksud dan Tujuan
I.2.1 Maksud Percobaan
Mengetahui
dan memahami cara penentuan konstanta laju disolusi dari suatu sedian obat
tertentu pada berbagai pH dan suhu
I.2.2 Tujuan Percobaan
Menentukan
laju disolusi tablet amoksisilin pada berbagai pH dan suhu dengan medium air
suling dengan menggunakan alat disolusi
I.3 Prinsip Percobaan
Penentuan
konstanta kecepatan disolusi dari tablet amoksisilin 500 mg berdasarkan kadar
amoksisilin yang terdisolusi dalam medium air suling pada suhu 370C dengan
menggunakan alat disolusi dan penentuan kadarnya dengan menggunakan metode
titrasi alkalimetri dengan penambahan indikator fenolftalein yang dititrasi
dengan NaOH 0,0989 N baku hingga terjadi
perubahan warna dari bening menjadi merah muda pada menit ke 5, 10 dan 15.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Umum
Stabilitas diartikan
sebagai bahwa obat (bahan obat, sedian obat) disimpan dalam kondisi penyimpanan
dan pengangkutan tidak menunjukkan perubahan sama sekali atau berubah dalam
batas-batas yang diperoleh.
Dalam bidang farmasi,
obat masih dapat diterima apabila sebagian obat mengalami perubahan sampai
batas tertentu, yaitu suatu kadar obat masih berada dalam kadar yang ditetapkan
dalam Farmakope Indonesia
atau Farmakope lainnya. Batas kadar yang dimaksud adalah 90 % artinya kalau
kadar obat masih di atas 90 %, obat tersebut masih dapat digunakan. Tapi, jika
kadar obat kurang dari 0 %, maka obat tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi
Indikasi kualitas yang
mendasar adalah kandungan bahan aktif, kondisi galenik dan sifat sensorik yang
menarik, sifat mikrobiologi dan toksitologi serta aktifitas terapiknya. Skala
perubahan yang diizinkan untuk bahan obat yang telah tercantum dalam farmakope
adalah 90 % bahan aktif dari yang tertara pada etiket berlaku dalam lingkup
internasional sejauh produk urainya yang terbentuk tidak menaikkan toksisitas
sedian secara keseluruhan.
Beberapa faktor yang
mempengaruhi kecepatan pelarutan suatu zat yaitu :
- Temperatur
Naiknya temperatur pada umumnya memperbesar
kelarutan (Cs) zat yang endotermis, serta memperbesar harga
koefisien difusi zat.
- Viskositas
Turunnya viskositas pelarut akan memperbesar
kecepatan pelarutan suatu zat sesuai dengan persamaan Einstein. Naiknya
temperatur juga akan menyebabkan turunnya viskositas sehingga memperbesar
kecepatan pelarutan.
- pH pelarut
pH pelarut sangat berpengaruh terhadap
kelarutan-kelarutan zat-zat yang bersifat asam lemah atau basa lemah.
- Pengadukan
Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi tebal
lapisan difusi (b). Bila pengadukan cepat maka tebal lapisan difusi berkurang sehingga menikkan
kecepatan pelarut suatu zat.
- Ukuran partikel
Bila partikel zat terlalu kecil maka luas
permukaan efektif besar sehingga menaikkan kecepatan pelarutan suatu zat
- Polimorfisa
Kelarutan zat dipengaruhi oleh adanya
polimorfisa. Karena bentuk kristal yang berbeda akan mempunyai kelarutan yang
berbeda pula. Kelarutan bentuk kristal yang meta stabil lebih besar dari pada
bentuk stabil, sehingga kecepatan pelarutannya besar.
- Sifat permukaan zat
Pada umumnya zat-zat yang digunakan sebagai
obat bersifat hidrofob, dengan adanya surfaktan di dalam pelarut akan
menurunkan tegangan permukaan antara partikel zat dengan pelarut, sehingga
mudah terbasahi dan kecepatan pelarutan bertambah.
Salah satu faktor-faktor tersebut, kecepatan pelarutan
suatu zat aktif dari sediaannya dipengaruhi pula oleh faktor formulasi dan
teknik pembuatan sediaan tersebut. (2: 845-846 )
Perbedaan aktifitas biologi dari suatu zat obat
mungkin diakibatkan oleh laju dimana obat menjadi tersediauntuk organisme
tersebut. Dalam banyak hal laju disolusi atau waktu yang diperlukan bagi obat
untuk melarutkan dalam cairan pada tempat absorbsi, merupakan tahap yang
menunjukan laju dalam proses absorbsi. Ini benar untuk obat-obat yang diberikan
secara oral dalam bentuk padat seperti tablet, kapsul atau suspensi, seperti juga
obat-obat yang diberikan secara intramuscular dalam bentuk pellet atau
suspensi. Bila laju disolusi merupakan tahap yang menentukan laju, apapun yang
mempengaruhinya akan mempengaruhi absorbsi. Akibatnya laju disolusi dapat
mempengaruhi onset, intensitas, dan lama respon serta kontrol bioavailabiitas
obat tersebut keseluruhan dari bentuk sediaannya (3: 153).
Laju disolusi dapat ditingkatkan dengan meningkatkan
ukuran partikel obat. Ia juga bisa ditingkatkan dengan meningkatkan
kelarutannya dalam lapisan difusi. Cara-cara yang paling efektif untuk
memperoleh laju disolusi yang tinggi adalah dengan menggunakan suatu garam yang
larut dalam air dari zar induknya. Walaupun garam yang larut dari suatu asam
lemak akan secara berurutan mengendap sebagai asam bebas dalam fase bulk dari
suaru larutan asam, separti cairan lambung, ia akan berlaku demikian dalam
bentuk partikel-partikel halus dengan suatu permukaan besar (3:154).
Penentuan kecepatan
pelarutan suatu zat dapat dilakukan dengan metode : (1)
-
Metode suspensi
Bubuk zat padat ditambahkan pada pelarut
tanpa pengontrolan yang eksak terhadap luas permukaan partikelnya. Sampel
diambil pada waktu-waktu tertentu dan jumlah zat yang larut ditentukan dengan
cara yang sesuai
-
metode permukaan
konstan
zat ditempat dalam suatu wadah yang diketahui
luasnya, sehingga variabel perbedaan perbedaan luas permukaan efektif dapat
dihilangkan. Biasanya zat dibuat tabet terlebih dahuhlu. Kemudian sampel
ditentukan seperti pada metode suspensi.
Uji disolusi zat khasiat :
(2)
Pengukuran ini dilakukan
dengan 5 tablet yang diukur satu persatu memakai alat disolution tester. Yang
diukur dengan tes disolusi ini adalah jumlah zat khasiat yang larut dalam satu
satuan waktu.
Disolusi zat khasiat dari
tablet dapat terjadi dengan cara : (2)
a.
tablet mengalami
disintegrasi terlebih dahulu
b.
Baru kemudian zat
berkhasiat melarut dari bagian-bgin tablet yang hancur tersebut.
Namun pernyataan ini tidak
dapat begitu saja diterima oleh karena pada kenyataannya proses disolusi tablet
berlangsung bersamaan dengan terjadinya disintegrasi dari tablet. Kecepatan
disolusi ada kaitannya dengan efek farmakologi zat khasiat yang dikandung dalam
tablet. (2)
Agar suatu obat
diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larut dalam cairan pada tempat
absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang diberikan secara oral dalam bentuk
tablet atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai partikel-partikel obat larut
dalam cairan pada suatu tempat dalam saluran lambung usus. Dalam hal dimana
kelarutan suatu obta tergantung dari apakah medium asam atau medium basa, obat
tersebut akan dilarutkan berturut-turut dalam lambung dan dalam usus. Proses
melarutnya obat disebut disolusi. (3)
Dalam bidang farmasi,
penentuan kecepatan pelarutan suatu zat perlu dilakukan karena kecepatan
pelarutan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi absorbsi obat.
Penentuan kecepatan suatu zat aktif dapat dilakukan pada beberapa tahap
pembuatan sediaan obat yaitu : (1)
1.
Tahap pre-formulasi
Pada tahap ini penentuan kececepatan
pelarutan dilakukan terhdap bahan baku obat
dengan tujuan untuk memilih sumber bahn baku dan
memperoleh informasi tentang bahan baku
tersebut.
2.
Tahap Formulasi
Pada tahap ini penentuan kecepatan pelarutan
dilakukan untuk memilih formula yang terbaik.
3.
Tahap produksi
Pada tahap ini penentuan kecepatan pelarutan
dilakukan untuk kontrol kualitas sediaan obat yang diproduksi.
II.2 Uraian Bahan
1.
Air suling (FI III;
96)
Nama Resmi :
Aqua destillata
Nama Lain :
aquades, air suling
RM/BM :
H2O/18,02
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau,
tidak berasa
Penyimpanan :
Dalam wadah tertutup rapat.
Penggunaan :
Sebagai pelarut
2.
Natrium Hidroksida
(FI, III;412)
Nama Resmi : Natrii Hydroxydum
Nama Lain : Natrium Hidroksida
Rumus Kimia : NaOH
Berat Molekul : 40,00
Pemerian : Bentuk batang, butiran,
massa hablur
atau keping, kering, keras, rapuh, dan menunjukkan susunan hablur; putih, mudah
meleleh, mudah basah, sangat alkalis dan korosif segera menyerap
karbondioksida.
Kelarutan :
Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95 %) P.
Penyimpanan :
Dalam wadah tertutup baik.
Penggunaan :
Sebagai titran
3.
Fenolftalein (4;73)
Nama Lain :
Phenolphtaleinum
Nama Lain : Fenolftalein
RM/BM : C20H14O14
/ 318,33
|
Rumus
Bangun :
![]() |
Pemerian :
Serbuk hablur putih atau putih
kekuningan, tidak berbau, stabil di udara.
Kelarutan : Praktis tidak
larut dalam air, larut dalam etanol, agak sukar larut dalam eter.
Trayek pH : 8,3 – 10,0
Perubahan
Warna : Tidak berwarna
menjadi merah muda
Penggunaan
: Sebagai indikator dalam metode alkalimetri
untuk penentuan kadar asam mefenamat.
4.
Amoksisilin (4;90)
Nama resmi : Amoxicillinum
Sinonim : Amoksisilina
RM
/ BM : C16H19N3O5S
/ 365,40
Pemerian : Serbuk hablur, putih, praktis tidak berbau.
Kelarutan : Sukar larut dalam air dan methanol, tidak
larut dalam benzene, dalam karbontetraklorida dan dalam kloroform.
Persyaratan
kadar : Amoksisilin mengandung tidak kurang dari
90% C16H19N3O5S, dihitung terhadap
zat anhidrat
Khasiat : Antibiotik
Kegunaan : Sebagai sampel.
II.3 Prosedur Kerja
(1)
1.
Bak mantel yaitu
tempat labu disolusi dimasukkan, diisi dengan air suling (kalau digunakan air
ledeng akan terjadi pengapuran pada alat pemanas elemen).
2.
Stel pada suhu 37oC
kurang lebih 0,5o, alat di on-kan (hubungkan dengan sumber PLN)
melalui stabilizer agar alat tidak mudah rusak.
3.
Isi labu disolusi
dengan media disolusi. Kalau suhu media dimasukkan dengan suhu kamar maka akan
memerlukan waktu yang lama untuk mencapai 37oC. Volume larutan
disolusi adalah 900 ml (lazimnya).
4.
Bila suhu dalam labu
disolusi sudah mencapai 37oC (konstan), tablet asetosal dimasukkan
dalam keranjang (basket dari kawat platina).
5.
Pada saat
dimasukkan, di on-kan pengaduk dengan kecepatan 100 rpm. Kecepatan 100 rpm
adalah kecepatan yang lazim digunakan.
6.
Catat waktu pada
saat basket yang berisi tablet dimasukkan dalam labu disolusi.
7.
Pada saat tertentu,
lihat lembaran laporan, ambil contoh sejumlah 1,0 ml dengan pipet volume dan
larutan disolusi dicukupkan sehingga larutannya seperti semula, yaitu 900 ml
(catatan : pada waktu disolusi diambil contoh 1 ml, larutan disolusi berkurang
1 ml, supaya volumenya tetap maka dicukupkan larutan disolusinya hingga 900
ml).
8.
Larutan contoh
diencerkan 10 x menggunakan larutan dapar pH 7,2 dan saring sebelum diukur
dengan spektrofotometer UV (ingat pada waktu menyaring, saringan pertama
dibuang yaitu kurang lebih 10-20 tetes).
9.
Contoh yang sudah
diencerkan tadi dikumpulkan dan diukur dengan UV.
10. Larutan asetosal dalam larutan tidak bias tahan lama, karena
mengalami penguraian.
BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat dan bahan yang digunakan
-
Alat uji disolusi
-
Buret 25,0 ml
-
Erlenmeyer 250 ml
-
Gelas kimia 1000 ml
-
Gelas ukur 100 ml
-
Pipet tetes
-
Pipet volume 10 ml
-
Statif dan klem
-
Termometer
III.1.2 Bahan yang digunakan
-
Air suling
-
Indikator PP
-
NaOH 0,125 N
-
Tablet Asetosal
III.2 Cara Kerja
1.
Disiapkan alat dan
bahan yang digunakan.
2.
Dipanaskan air
suling dalam gelas kimia sebanyak 1000 ml di atas penangas air hingga suhunya
40o C.
3.
Dimasukkan air
suling yang telah dipanaskan sebanyak 900 ml ke dalam labu disolusi.
4.
Dipasang termostat
pada labu disolusi untuk memanaskan mantel pemanas
5.
Termostat dihidupkan
dan diatur suhunya pada 37o C.
6.
Tablet asetosal
dimasukkan dalam keranjang kemudian dimasukkan dalam labu disolusi setelah suhu
mencapai 37o C dan pengaduk dijalankan.
7.
Setelah 5 menit,
dipipet larutan pada labu disolusi sebanyak 10 ml menggunakan pipet volume yang
ujung bawahnya ditutup dengan kertas saring dan dimasukkan dalam erlenmeyer.
Setelah itu segera tambahkan air suling untuk mengganti cairan yang diambil
sebanyak 10 ml.
8.
Larutan di dalam
erlenmeyer ditambahkan indikator fenolftalein sebanyak 3 tetes.
9.
Dititrasi dengan
larutan baku
NaOH 0,125 N sampai terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah muda yang
stabil.
10.
Dicatat volume NaOH
0,125 N yang digunakan.
11.
Dilakukan cara kerja
yang sama untuk menit ke 10, 15, 20, 25, 30, 35, dan 40.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1 Data Pengamatan
|
Waktu (menit)
|
Vol. Titran (ml)
|
|
5
|
0,5
|
|
10
|
0,4
|
|
15
|
0,2
|
|
20
|
0,2
|
|
25
|
0,1
|
|
30
|
0,1
|
|
35
|
0,1
|
|
40
|
0,1
|

IV.2 Reaksi
IV.3 Perhitungan
1 mol ampisilin setara dengan 1 mol NaOH
BE = ½ BM
BE = ½ x 180,16
BE = 90,08
1.
Persen Kadar
# untuk t = 5 menit
V x N
X BE
Bs
0,5 x 0,125 x 90,08
667
% K = 0,844 %
# untuk
t = 10 menit
0,4 x 0,125 x 90,08
667
% K = 0,675 %
# untuk
t = 15 menit
0,2 x 0,125 x 90,08
667
% K = 0,337 %
# untuk t = 20 menit
0,2 x 0,125 x 90,08
667
% K = 0,337 %
# untuk t = 25 menit
0,1 x 0,125 x 90,08
667
% K = 0,168 %
# untuk t = 30 menit
0,1 x 0,125 x 90,08
667
% K = 0,168 %
# untuk
t = 35 menit
0,1 x 0,125 x 90,08
667
% K = 0,168 %
# untuk
t = 40 menit
0,1 x 0,125 x 90,08
667
% K = 0,168 %
2.
Bobot Dalam Media
Disolusi
W = %
K x V media disolusi (900 ml)
Untuk menit ke 5
W = 0,844 %
x 900 ml =
7,596 mg
Untuk menit ke 10
W = 0,675 %
x 900 ml =
6,075 mg
Untuk menit ke 15
W = 0,337 %
x 900 ml =
3,033 mg
Untuk menit ke 20
W = 0,337 %
x 900 ml =
3,033 mg
Untuk menit ke 25
W = 0,168 % x 900 ml
= 1,512 mg
Untuk menit ke 30
W = 0,168 % x 900 ml
= 1,512 mg
Untuk menit ke 35
W = 0,168 % x 900 ml
= 1,512 mg
Untuk menit ke 40
W = 0,168 % x 900 ml
= 1,512 mg
3.
% kelarutan
W
Wo
Untuk menit ke 5
7,596
80
= 9,495 %
Untuk menit ke 10
6,075
80
= 7,593 %
Untuk menit ke15
3,033
80
= 3,791 %
Untuk menit ke 20
3,033
80
= 3,791 %
Untuk menit ke 25
1,512
80
= 1,890 %
Untuk menit ke 30
1,512
80
= 1,890 %
Untuk menit ke 35
1,512
80
= 1,890 %
Untuk menit ke 40
1,512
80
= 1,890 %
4.
Tabel Regresi
|
X (t)
|
[Wo-Wn]
|
Y(Log [Wa-Wn])
|
Y regresi
|
% kelarutan
|
|
5
|
72,404
|
1,860
|
1,868
|
9,495
|
|
10
|
73,925
|
1,869
|
1,873
|
7,593
|
|
15
|
76,967
|
1,886
|
1,878
|
3,791
|
|
20
|
76,967
|
1,886
|
1,883
|
3,791
|
|
25
|
78,488
|
1,895
|
1,888
|
1,890
|
|
30
|
78,488
|
1,895
|
1,892
|
1,890
|
|
35
|
78,488
|
1,895
|
1,897
|
1,890
|
|
40
|
78,488
|
1,895
|
1,902
|
1,890
|
A = 1,863
B = 0,000979
Y = a + bx
Y =
1,863 - 0,000979x
2,303
k = b x
2,303
= 0,000979 x 2,303
=
0,00225
IV.4
Grafik
a. Grafik Hubungan Waktu Dengan %
Kelarutan
![]() |
b. Grafik Hubungan Waktu Dengan log
(Wo-W)
![]() |
Error! Not a valid link.
BAB V
PEMBAHASAN
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari
bentuk sediaan ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangatlah
penting artinya bagi ketersediaan hayati suatu obat sangat tergantung dari
kemampuan zat tersebut melarut ke dalam media pelarut sebelum di serap ke dalam
tubuh. Kecepatan pelarutan adalah suatu ukuran yang menyatakan banyaknya suatu
zat terlarut dalam pelarut tertentu tiap satuan waktu.
Disolusi zat khasiat dari tablet dapat
terjadi dengan cara : tablet mengalami disintegrasi terlebih dahulu, baru kemudian
zat berkhasiat melarut dari bagian-bagian tablet yang hancur tersebut.
Namun pernyataan ini tidak
dapat begitu saja diterima oleh karena pada kenyataannya proses disolusi tablet
berlangsung bersamaan dengan terjadinya disintegrasi dari tablet. Kecepatan
disolusi ada kaitannya dengan efek farmakologi zat khasiat yang dikandung dalam
tablet.
Agar suatu obat diabsorbsi,
mula-mula obat tersebut harus larut dalam cairan pada tempat absorbsi. Sebagai
contoh, suatu obat yang diberikan secara oral dalam bentuk tablet atau kapsul
tidak dapat diabsorbsi sampai partikel-partikel obat larut dalam cairan pada
suatu tempat dalam saluran lambung usus.
Dalam bidang farmasi,
penentuan kecepatan pelarutan suatu zat perlu dilakukan karena kecepatan
pelarutan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi absorbsi obat.
Dalam percobaan ini, dilakukan penentuan kecepatan melarutnya zat
aktif dari tablet asetosal berdasarkan penetapan kecepatan disolusinya.
Pada titrasi ini akan terjadi reaksi netralisasi dari asetosal dengan
NaOH membentuk garam. Kemudian sedikit kelebihan NaOH Akan bereaksi dengan
indikator yang akan menyebabkan warna ungu karena adanya perubahan warna dari
indikator fenolftalein. Perubahan warna terjadi setelah beberapa tetes NaOH
ditambahkan, karena asetosal merupakan asam lemah, jadi hanya sedikit
diperlukan NaOH yang diperlukan untuk bereaksi dengan asetosal seluruhnya.
Perubahan warna indikator terjadi karena struktur dan ionnya berbeda
setelah penambahan NaOH. Indikator fenolftalein merupakan suatu asam diprotik
dan tidak berwarna. Pada pH dibawah 8,0 indikator ini akan tidak berwarna
sedangkan pada larutan dengan pH 8,0-10,0 akan berwarna merah muda ungu. Adanya
perubahan warna indikator ini dapat terjadi karena adanya perbedaan struktur
molekul dan ionnya. Ia mula-mula berdisosiasi menjadi suatu bentuk tidak
berwarna dan kemudian dengan kehilangan hidrogen kedua, menjadi ion dengan
sistem terkonjugasi maka dapat dihasilkan warna merah muda.
Pada percobaan ini cairan yang berada dalam labu disolusi (900 ml)
dianggap cairan tubuh manusia. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kecepatan
kelarutan asetosal di dalam tubuh. Walaupun cairan yang ada di dalam labu
disolusi berupa air suling, tidak sekompleks apa yang ada dalam cairan tubuh,
tetapi hal ini hanya merupakan metode pendekatan yang telah dilakukan
penelitian sebelumnya. Oleh karena itu pada percobaan ini juga digunakan suhu
37o C seperti pada suhu tubuh manusia.
Pengambilan sampel dilakukan pada menit ke 5, 10, 15, 20, 25, 30,
35, dan 45. perbedaan waktu pengambilan sampel dimaksudkan untuk mengetahui
kelarutan obat tersebut dalam waktu tertentu.
Untuk setiap kali pengambilan sampel maka ditambahkan air suling ke
dalam labu disolusi. Sebanyak sampel yang diambil. Hal ini dikarenakan volume
cairan tubuh tidak berkurang. Sebagaimana pengambilan sampel dalam labu
disolusi.
Dari percobaan yang telah dilakukan diperoleh bahwa konstanta
kecepatan disolusi tablet asetosal adalah 0,00225.
Faktor-faktor kesalahan pada percobaan ini adalah :
1. Kekurangcermatan
praktikan dalam menggunakan alat..
2. Kekurangcermatan
praktikan dalam melakukan titrasi.
3. Alat
dan bahan yang sudah tidak bagus lagi.
BAB VI
PENUTUP
VI.1 Kesimpulan
Dari
percobaan yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa konstanta disolusi
tablet asetosal adalah sebesar 0,00225 mol/L menit.
VI.2 Saran
Sebaiknya alat dan bahan yang digunakan masih baru.


